Falling Whistles adalah lembaga nirlaba yang berjuang untuk perdamaian di Republik Demokratik Kongo. Peluit berfungsi sebagai simbol protes dan organisasi ini mengajak individu untuk menjadi pelapor perdamaian. Organisasi ini mendonasikan hasil penjualan peluit kepada para visioner Kongo, serta memastikan terbentuknya koalisi global untuk perdamaian.
Falling Whistles menawarkan peluit dengan harga antara 600 ribu hingga 2 juta rupiah guna mengumpulkan dana untuk pendidikan, advokasi, dan rehabilitasi bagi mereka yang terdampak perang di Kongo. Nama organisasi ini diambil dari sebuah jurnal karya pendirinya, yang menggambarkan pengalamannya selama perjalanan ke Kongo timur pada tahun 2008. Dalam perjalanan tersebut, pendiri Falling Whistles bertemu dengan sekelompok lima mantan tentara anak yang memberitahunya bahwa anak-anak yang terlalu muda untuk menggunakan senjata dikirim ke medan perang hanya bersenjatakan peluit. Dengan memakai peluit, kampanye ini bertujuan memanfaatkan alat tersebut sebagai sarana protes dan untuk meningkatkan kesadaran mengenai situasi di Kongo. Hingga September 2010, $500.000 berhasil terkumpul.
Falling Whistles menjalin kemitraan dengan para pemimpin Kongo di Kivu Utara dan Selatan, memberikan dukungan finansial, teknis, dan logistik untuk membantu rehabilitasi para korban perang di Kongo. Pada tahun 2010, Falling Whistles mendirikan kantor advokasi di Washington, DC, serta meluncurkan jaringan komunitas yang disebut “Whistler Societies” yang berkumpul untuk mempelajari krisis di DRC dan mengambil langkah-langkah menuju solusi.
Pada April 2011, Falling Whistles meluncurkan kampanye untuk pemilihan umum yang adil dan bebas di Kongo, serta berkolaborasi dengan 8 organisasi lain dalam usaha menunjuk Utusan Khusus AS untuk Wilayah Danau-Danau Besar. Pada bulan September 2010, staf dan sukarelawan Falling Whistles memulai tur ke 30 kota, mengunjungi universitas dan berbagai organisasi termasuk Google, MIT, dan Universitas Tufts.